Jakarta Juga Punya ‘Menara Pisa’

img

Menara miring Pisa ternyata bukan cuma ada di Pisa, Italia, traveler juga bisa melihatnya di Jakarta, Menara Syahbandar namanya. Menara miring ini, ternyata dulunya adalah titik nol kilometer Jakarta.

Jika menengok ke belakang, menara pertama tertinggi di Jakarta ternyata bukanlah Monumen Nasional di Jakarta Pusat, tetapi Menara Syahbandar yang ada di Jakarta Utara. Selain pernah menjadi bangunan tertinggi, ternyata menara yang telah ada sejak zaman kolonial tahun 1839 ini juga pernah menjadi titik nol kilometer.

Yang lebih menarik lagi, traveler yang melewati menara ini pasti langsung teringat Menara Pisa yang ada di Italia. Betapa tidak, bangunan yang berada di Komplek Museum Maritim Bahari di Jalan Pasar Ikan I, Penjaringan, Jakarta Utara ini berdiri miring sekitar 5 derajat ke arah selatan. Wow!

“Saya tidak tahu pasti kapan menara ini mulai miring. Menara ini kan dibangun di atas tanah dari aliran sungai, jadi tidak kuat,” kata Kepala Seksi Edukasi dan Pameran UP Museum Bahari, Irfal Guci kepada detikTravel di lokasi, Senin (1/9/2012).

Dari informasi yang dihimpun, kemiringan menara diduga kuat karena pembangunan Kali Pakin di sebelah menara persis. Selain itu, konstruksi menara dibuat tidak dipersiapkan untuk getaran laju kendaraan besar seperti truk kontainer yang biasa melintas di Jalan Pakin depan menara.

Walau begitu, kemiringan menara tersebut menjadi daya tarik tersendiri untuk para pengunjung. Seperti wisatawan yang mengaku bernama Linda, tidak berhenti mengabadikan kemiringan menara tersebut dengan kameranya.

“Miringnya menara ini unik, tidak kalah dengan menara Pisa di Itali. Tapi kalau naik ke atas ya agak takut pas truk kontainer baru melintas,” ujar Linda.

Menara ini sedang ditutup untuk keperluan konservasi. Beberapa pelapukan terlihat pada anak tangganya, sehingga, jumlah wisatawan yang dapat naik ke atas menara pun dibatasi karena menara akan bergetar jika ada truk kontainer melintas.

“Jumlah pengunjung dibatasi karena tangga di dalam menara juga sudah lapuk,” ujar Irfal membenarkan.

Namun, kondisi menara yang menjadi saksi kejayaan maritim Nusantara tersebut dalam proses konservasi sekarang ini. Pembiayaan konservasi ini menelan biaya Rp 4,5 miliar dengan waktu 90 hari.

“Konservasi sudah dilakukan untuk memperkuat bangunan dari tanggal 13 September sampai 90 hari ke depan. Tapi miringnya menara tidak bisa diperbaiki,” kata Irfal.

Irfal menambahkan konservasi tersebut dilakukan untuk memperbaiki warna tembok menara, struktur bangunan, dan anak tangga. Namun kemiringan menara yang diketahui akibat dari pembangunan kali Pakin tetap dipertahankan dengan memperkuat struktur bangunan.

“Yang bisa dilakukan hanya memperkuat saja, tidak bisa memperbaiki kemiringan,” ujar Irfal.

Irfal menambahkan penguatan kemiringan lima derajat menara menggunakan pancang yang ditanam sekitar menara. Upaya konservasi ini pun memaksa pengelola menutup menara untuk pengunjung.

 


loading...
Jakarta Juga Punya ‘Menara Pisa’ | makinseru | 4.5