11 Fakta yang Terkuak di Balik Tragedi Sukhoi di Gunung Salak

11-fakta-yang-terkuak-di-balik-tragedi-sukhoi-di-gunung-salak

Kemarin, Selasa (18/12) Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis sebelas fakta yang ditemukan dibalik tragedi jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, 9 Mei lalu berdasarkan pada keselamatan penerbangan.

11 Fakta yang Terkuak di Balik Tragedi Sukhoi di Gunung Salak

  1. Penerbangan sudah direncanakan dalam Aturan Instrumen Penerbangan atau IFR
  2. Rute penerbangan yang direncanakan bukan rute udara resmi yang diterbitkan
  3. Rute minimum (MORA) untuk rute penerbangan yang direncanakan adalah 13.200 kaki
  4. Ketinggian Aman Minimum (MSA) dari Lanud Halim Perdanakusuma adalah 6.900 kaki, sementara radius MSA itu adalah 25 Nautical Mile(NM) dari Halim
  5. Ketinggian penerbangan adalah 10.000 kaki
  6. Awak pesawat meminta menurunkan pesawat ke ketinggian 6.000 kaki dan menara kontrol mengizinkan turun ke posisi 6.000 kaki itu
  7. Penerbangan meminta orbit ke kanan pada ketinggian 6.000 kaki dan disetujui menara kontrol
  8. Ketika layar radar menunjukkan pesawat meminta orbit, posisinya sudah berada di atas area Pelatihan Atang Sanjaya
  9. Kawasan Atang Sanjaya berada sekitar 17 NM barat daya dari Halim Perdanakusuma
  10. Pesawat menabrak daratan pada arah 198 derajat dari Halim Perdanakusumah pada jarak 28 Nm, sementara ketinggian sekitar 6.000 kaki
  11. Data para awak dan penumpang berada di dalam pesawat. Salinan manifes penumpang dan awak tidak tersedia di lembaga Ground Handling.

Dari data diatas pun didapati tiga faktor kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 disebabkan oleh sang pilot. Pertama, peta pada pesawat SSJ 100 tidak memuat informasi mengenai area yang dilintasi (Bogor). Kondisi pilot yang tak menguasai medan dan kontur pegunungan Salak semakin diperparah dengan kondisi langit yang pada saat kejadian sangat tebal sehingga mempersempit jarak pandang.

Kedua, dalam penerbangan tersebut, Pilot In Command (PIC) Aleksandr Yablontsev (57) bertugas sebagai pilot yang mengemudikan pesawat dan Second In Command (SIC) bertugas sebagai pilot monitoring. Di kokpit terdapat seorang wakil dari calon pembeli yang menempati tempat duduk observer(jump seat).

Pasalnya, berdasarkan rekaman di menit-menit akhir, Yablonstev banyak melakukan komunikasi di luar konteks penerbangannya dan sibuk mempromosikan kehebatan SSJ 100 kepada wakil calon pembeli tersebut.

Dugaan ini diperkuat dari rentetan komunikasi yang didapat tim investigasi melalui memori modul black box. Bahkan 34 detik sebelum pesawat itu menabrak tebing, Yablonstev mematikan Terrain Awareness Warning System (TAWS) yang memberikan peringatan berupa suara sebanyak enam kali.

Kesalahan ketiga adalah saat data penerbangan yang dibawa ke dalam pesawat. Hal ini membuat proses evakuasi menjadi tersendat dan keluarnya data korban yang simpang siur.


loading...
11 Fakta yang Terkuak di Balik Tragedi Sukhoi di Gunung Salak | makinseru | 4.5